Langsung ke konten utama

Jangan Mengeluh di Dinding Facebook

Dulu aku termasuk salah satu orang yang suka melakukan ini, yaitu menulis status keluhan di dinding facebook. Parahnya lagi, teman-temanku di facebook juga banyak yang melakukan ini hahaha...
Status tentang masalah rumah tangga, masalah dengan pacar, sakit hati, ataupun aib diri yang lainnya tak seharusnya nongol di facebook. Sebagai social media, facebook harusnya sebagai sarana berbagi kesenangan dan keceriaan bukan sebagai tempat sampah keluhan-keluhan.

Aku merasa kasihan dengan teman yang membaca status galau di facebook, orang galau baca status galau trus apa jadinya coba? makin galaulah dia. Sebagai media komunikasi di dunia maya, khususnya facebook (karena aku nggak punya twitter hehe) harusnya digunakan untuk memotivasi diri maupun orang lain. Tidak ada salahnya memang, sekali-kali menulis status sesuai apa yang kamu rasakan, tapi mbok ya jangan status kegalauan melulu.

Tulislah keresahan, kebimbangan, dan masalah hidupmu ditempat yang sesuai. Di blog misalnya atau di buku diary pribadimu, itu lebih bijak menurutku hehe. So, segera ubah kebiasaanmu kawan dan sering-seringlah baca webnya para motivator seperti jamil azzaini atau andrie wongso agar kegalauanmu sedikit terobati hehe...

Salam...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NYEKAR DI MAKAM SIMBAH

Pagi ini sehabis subuh. Aku dan kakak sepupuku sepakat untuk berangkat ke Nganjuk. Kami ingin nyekar/ berziarah ke Makam simbah. Harusnya kemarin aku pulang, tetapi tidak jadi. Maka, pagi inilah rencanaku berhasil kuubah menjadi kenyataan.  Makam desa ini tanahnya becek sepertinya sisa hujan kemarin. Banyak daun-daun trembesi yang gugur mengotori permukaan tanah makam. Petugas makam mungkin lupa membersihkan atau memang sengaja dibiarkan agar anak cucu Sohibul makam lebih peduli dan punya inisiatif untuk menyapu dan memungut dedaunan itu.  Hari ini, sehari menjelang Ramadan. Banyak orang membawa tas kresek berisi bunga tabur. Rasanya memang tidak lengkap jika sowan dengan tangan kosong. Orang-orang sibuk berdoa, melanjutkan harapan-harapan baik untuk sanak keluarga yang sudah lebih dulu "pulang" ke kampung asal. Alam ruh, barzah.  Simbahku telah lama berpulang. Mungkin "di sana" beliau juga sedang bersiap menyambut datangnya ramadan. Bulan dilipatgandakannya segala ...

Ayahku dan Surat Terakhir

Ilustrasi:Google Aku tak benar-benar tahu siapa ayahku, hanya selembar foto usang dan sekeping cerita tentangnya dari ibuku. Foto itu pun sekarang agak buram. Warnanya mulai memudar dimakan usia. Dan kepingan cerita tentangnya tak mampu menghilangkan dahagaku. Ketika ibuku bercerita, ada kabut dalam sorot matanya. Kabut yang tak akan pernah bisa lenyap. Tak akan pernah bisa. Aku mewarisi warna kulit, potongan rambut, dan sedikit bentuk wajah yang mirip dengannya. Hanya itu yang kutahu. Setiap kutatap lekat foto lelaki itu, dadaku bergemuruh. Ribuan pertanyaan menyesaki otakku yang tak pernah kutahu jawabannya hingga saat ini. Bentangan jarak yang begitu jauh dan minimnya informasi tentangnya memaksaku untuk mengakui bahwa jurang kemustahilan itu ada. Ya, sebuah jurang yang menganga. Aku tak punya daya untuk membuat jembatan. Aku masih kalah.

MBAH KARTO

Sumber: unsplash/elena saharova “Kopi hitam dua mbah!” Kataku sambil mengacungkan dua jari membentuk huruf V. Si penjaga warung mengangguk dan bergegas mengambil cangkir dan lepek, kemudian meracik kopi dan gula. “Lama ndak kesini, Nak Adi?” Tanya mbah Karto usai menyerahkan kopi yang asapnya mengepul dari cangkir.