Ilustrasi:Google Aku tak benar-benar tahu siapa ayahku, hanya selembar foto usang dan sekeping cerita tentangnya dari ibuku. Foto itu pun sekarang agak buram. Warnanya mulai memudar dimakan usia. Dan kepingan cerita tentangnya tak mampu menghilangkan dahagaku. Ketika ibuku bercerita, ada kabut dalam sorot matanya. Kabut yang tak akan pernah bisa lenyap. Tak akan pernah bisa. Aku mewarisi warna kulit, potongan rambut, dan sedikit bentuk wajah yang mirip dengannya. Hanya itu yang kutahu. Setiap kutatap lekat foto lelaki itu, dadaku bergemuruh. Ribuan pertanyaan menyesaki otakku yang tak pernah kutahu jawabannya hingga saat ini. Bentangan jarak yang begitu jauh dan minimnya informasi tentangnya memaksaku untuk mengakui bahwa jurang kemustahilan itu ada. Ya, sebuah jurang yang menganga. Aku tak punya daya untuk membuat jembatan. Aku masih kalah.
Komentar
Posting Komentar