Langsung ke konten utama

Para Guru

Engkau laksana sumur yang tak pernah kering meski ditimba terus airnya
Engkau laksana cahaya yang menerangi di kala gulita
Engkau tak meminta emas permata sebagai bayaranmu
Engkau tak berharap sanjungan atas jasamu

Engkau hanya ingin melihat anak muridmu menemukan kilauan mutiara di dalam dirinya
Engkau hanya ingin melihat anak muridmu menemukan jalan yang diberkahi
Engkau mengajarkan kebijakan dan kebajikan 

Dari angka hingga aksara
Dari mengeja hingga memberi makna

Para Guru,
Kusebut Engkau sebagai sang penopang dunia
Dunia ini akan roboh tanpa kehadiranmu
Peradaban tak akan muncul jika tanpamu

Jasamu sungguh besar tiada terkira
Sembah sujudku untukmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NYEKAR DI MAKAM SIMBAH

Pagi ini sehabis subuh. Aku dan kakak sepupuku sepakat untuk berangkat ke Nganjuk. Kami ingin nyekar/ berziarah ke Makam simbah. Harusnya kemarin aku pulang, tetapi tidak jadi. Maka, pagi inilah rencanaku berhasil kuubah menjadi kenyataan.  Makam desa ini tanahnya becek sepertinya sisa hujan kemarin. Banyak daun-daun trembesi yang gugur mengotori permukaan tanah makam. Petugas makam mungkin lupa membersihkan atau memang sengaja dibiarkan agar anak cucu Sohibul makam lebih peduli dan punya inisiatif untuk menyapu dan memungut dedaunan itu.  Hari ini, sehari menjelang Ramadan. Banyak orang membawa tas kresek berisi bunga tabur. Rasanya memang tidak lengkap jika sowan dengan tangan kosong. Orang-orang sibuk berdoa, melanjutkan harapan-harapan baik untuk sanak keluarga yang sudah lebih dulu "pulang" ke kampung asal. Alam ruh, barzah.  Simbahku telah lama berpulang. Mungkin "di sana" beliau juga sedang bersiap menyambut datangnya ramadan. Bulan dilipatgandakannya segala ...

Ayahku dan Surat Terakhir

Ilustrasi:Google Aku tak benar-benar tahu siapa ayahku, hanya selembar foto usang dan sekeping cerita tentangnya dari ibuku. Foto itu pun sekarang agak buram. Warnanya mulai memudar dimakan usia. Dan kepingan cerita tentangnya tak mampu menghilangkan dahagaku. Ketika ibuku bercerita, ada kabut dalam sorot matanya. Kabut yang tak akan pernah bisa lenyap. Tak akan pernah bisa. Aku mewarisi warna kulit, potongan rambut, dan sedikit bentuk wajah yang mirip dengannya. Hanya itu yang kutahu. Setiap kutatap lekat foto lelaki itu, dadaku bergemuruh. Ribuan pertanyaan menyesaki otakku yang tak pernah kutahu jawabannya hingga saat ini. Bentangan jarak yang begitu jauh dan minimnya informasi tentangnya memaksaku untuk mengakui bahwa jurang kemustahilan itu ada. Ya, sebuah jurang yang menganga. Aku tak punya daya untuk membuat jembatan. Aku masih kalah.

DUA TAHUN LALU

Sudah dua tahun ini aku menjadi marketing property. Aku tidak menyangka akan memasuki dunia marketing, salah satu profesi yang ingin kuhindari --berbicara dengan banyak orang, menawarkan produk yang belum tentu aku sukai-- sebab, aku cenderung introvert dan tidak menyukai berbicara panjang lebar dengan --pura-pura-- tersenyum sepanjang obrolan. Ah, rasanya menyebalkan. Namun, inilah kehidupan. Tidak selamanya sesuatu yang tidak kita sukai itu buruk. Justru sebaliknya, apa yang tidak kita sukai terkadang hal itulah yang akan membuat kita maju. Ada hikmah besar yang akan kita petik saat kita mau bersabar sedikit saja.  Manusia memang makhluk yang aneh. Sudah tahu bahwa hidup di dunia ini adalah ujian. Sudah tahu juga bahwa jawaban dari ujian itu adalah banyak-banyak bersabar. Namun dikala masalah itu datang, nyatanya kita tidak siap juga. Benar kata seorang filsuf, "Kita adalah musuh bagi ketidaktahuan." *** Di dunia kerja, pasti suatu ketika akan ada gesekan. Akan ada ketidakc...