Langsung ke konten utama

Postingan

Biola Itu Akhirnya Saya Jual

Ilustrasi: http://jabar.tribunnews.com/2017/06/19/ ingin-coba-main-biola-nih-7-tips-cara-main-biola-untuk-pemula Jadi begini ceritanya, beberapa bulan lalu saya akhirnya membeli sebuah biola. Bukan biola baru sih tapi bekas. Sudah lama sebenarnya saya ingin bisa memainkan biola. Ingin membeli baru, namun selalu saja ada alasan hingga urung membelinya. Hingga saya diajak oleh sepupu berkunjung ke Gresik, tepatnya di desa Bungah, ke rumah temannya sepupu saya. Orang-orang memanggilnya Pak Acil. Kesan ramah dan murah senyum langsung melekat di benak saya ketika bertemu, beliau sudah berumur 50-an. Ternyata beliau adalah pembuat rebana dan kendang.

Cintaku Indonesia

ilustrasi: google Telah merasuk cinta dalam jiwa yang terus menggelora Telah membuncah rindu dalam relung sukma yang kian membara Tak ada lagi tanya dan duka Tak ada lagi resah dan gundah Tak ada lagi aku, kau, dan siapapun Hanya satu. Indonesia

Bukanlah Kau

Bukanlah kau Jika menjadi angan tak tergenggam Serupa embun yang rapuh Atau cahaya yang runtuh Tetes fatamorgana di tengah sahara Bukanlah kau Jika menjadi kilau tak tersentuh Silau cahaya yang menetas di ujung cakrawala Titik putih di rahim samudera

GELANDANGAN

Sumber gambar: http://wahyudiattin.blogspot.com/2015/09 /kisah-seorang-gembel-yang-sangat.html Malam yang dingin. Orang itu tiba-tiba berada disitu. Ia tidur di emperan toko elektronik dan alat-alat listrik Pak Edi. Penampilannya awut-awutan, pakaiannya compang-camping.

JOKO PART 2: Orang Gila yang Unik

Ilustrasi: Toni Blank dari google Bahasa jawa halus kerap meluncur dari lisannya jika berbicara dengan orang yang lebih tua. Namun tak ketinggalan cengiran dan omongan ngelantur yang kadang tidak nyambung dengan isi obrolan. Begitulah tokoh utama kita ini (silakan baca di sini) . Wajahnya terus saja sumringah, belum pernah aku melihat dia bermuka masam. Sepertinya tak ada kesusahan yang pernah menghampirinya. Atau ia menyembunyikannya? tapi rasanya tidak mungkin. 

KE BIMA: Reuni Keluarga

Ilustrasi: google  Akhir bulan kemarin saya dan keluarga berkunjung ke Bima dalam rangka menghadiri pernikahan adik sepupu saya. Jadi, yang menikah adalah anak laki-laki Bulik saya. rencananya kami mau naik kapal laut saja. Nikahannya kan tanggal 28 April, jadi kalau naik kapal tanggal 25, dan perjalanan dua hari satu malam, berarti tanggal 27 kami sudah sampai di Bima. Tapi ternyata jadwal kapal ke Bima adanya tanggal 29 April. Rencana pun gagal. Terpaksa kami harus naik mobil. Mau naik pesawat, dompet lagi menipis.

Ayahku dan Surat Terakhir

Ilustrasi:Google Aku tak benar-benar tahu siapa ayahku, hanya selembar foto usang dan sekeping cerita tentangnya dari ibuku. Foto itu pun sekarang agak buram. Warnanya mulai memudar dimakan usia. Dan kepingan cerita tentangnya tak mampu menghilangkan dahagaku. Ketika ibuku bercerita, ada kabut dalam sorot matanya. Kabut yang tak akan pernah bisa lenyap. Tak akan pernah bisa. Aku mewarisi warna kulit, potongan rambut, dan sedikit bentuk wajah yang mirip dengannya. Hanya itu yang kutahu. Setiap kutatap lekat foto lelaki itu, dadaku bergemuruh. Ribuan pertanyaan menyesaki otakku yang tak pernah kutahu jawabannya hingga saat ini. Bentangan jarak yang begitu jauh dan minimnya informasi tentangnya memaksaku untuk mengakui bahwa jurang kemustahilan itu ada. Ya, sebuah jurang yang menganga. Aku tak punya daya untuk membuat jembatan. Aku masih kalah.